REDAKSI88.com – Di saat ribuan tenaga pelaksana program Makan Bergizi Gratis (MBG) masih menanti pembayaran gaji mereka, pernyataan Presiden Prabowo Subianto tentang menteri-mentrinya yang belum memperoleh mobil dinas justru mencuri perhatian.
Dalam Sarasehan Ekonomi yang digelar di Jakarta pada Selasa (8/4/2025), Prabowo mengungkapkan bahwa dirinya bersama para menteri sedang menjalani masa "kerja bakti" selama enam bulan pertama pemerintahannya.
"Kalau mereka mau kaya raya, mereka bisa. Tidak usah masuk pemerintah, mereka masuk pemerintah itu saya juga sedih," ucap Prabowo dengan nada haru.
Baca Juga: Hadapi Tarif Impor 32 persen, Luhut: Indonesia Tak Perlu Panik, Pengalaman Krisis Jadi Modal Utama
"Seperti Menteri Keuangan (Sri Mulyani), banyak yang belum dapat mobil dinas. Mereka kerja 6 bulan ini kerja bakti," tambahnya, menekankan pengorbanan para pejabatnya yang berasal dari kalangan mampu namun rela bekerja tanpa fasilitas lengkap.
Pernyataan Presiden tersebut berbanding terbalik dengan realita yang dihadapi ribuan staf Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) merupakan ujung tombak program MBG.
Padahal, program strategis nasional ini telah menjangkau 3 juta penerima manfaat dengan dukungan 1.000 SPPG, dan menargetkan cakupan 82,9 juta orang pada akhir 2025.
Baca Juga: Luhut Tanggapi Pelemahan Rupiah ke Rp17.000: Masih Normal dan Investor China Tetap Minat
"Sudah masuk kurang lebih 1.000 (SPPG), melayani sekitar 3 juta, dan ditargetkan di akhir tahun melayani 82,9 juta," jelas Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Dadan Hindayana.
Namun, janji Dadan untuk membayarkan gaji mereka sebelum Lebaran 2025 ("Sebelum lebaran selesai, cair" dalam pernyataan 21/3/2025) hingga kini masih menjadi tanda tanya besar.***
Artikel Terkait
Banyak Pejabat Kerja Bakti Tanpa Mobil Dinas, Prabowo Buka Suara Usai Pangkas Anggaran Rp306 T
Menko Airlangga Respons Pelemahan IHSG: Pasar Masih Fluktuatif tapi Mulai Membaik
Sri Mulyani Kritik Kebijakan Trump: Tarif Resiprokal Tak Masuk Akal, Tak Dapat Dipahami Ekonom
SBY Ungkap Strategi Rahasia Prabowo Hadapi Tarif Impor AS: 'Dual Track Strategy'
Luhut Tanggapi Pelemahan Rupiah ke Rp17.000: Masih Normal dan Investor China Tetap Minat
Hadapi Tarif Impor 32 persen, Luhut: Indonesia Tak Perlu Panik, Pengalaman Krisis Jadi Modal Utama