Airlangga Ungkap Negosiasi Tambahan Impor Migas dari AS Masih Berjalan, Demi Tekan Tarif Resiprokal Trump

Ibrahim Shiddiq, Redaksi88
- Sabtu, 26 April 2025 | 11:10 WIB
Presiden Amerika Serikat, Donald Trump (kiri) dan Menko Perekonomian RI, Airlangga Hartarto (kanan).  (Instagram.com / @potus - @airlanggahartarto.official)
Presiden Amerika Serikat, Donald Trump (kiri) dan Menko Perekonomian RI, Airlangga Hartarto (kanan). (Instagram.com / @potus - @airlanggahartarto.official)

Redaksi88.com – Menko Perekonomian RI, Airlangga Hartarto, membeberkan perkembangan terkini soal negosiasi yang dilakukan delegasi pemerintah Indonesia terkait tarif balasan atau resiprokal yang diberlakukan Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump.

Airlangga menyampaikan bahwa saat ini pihaknya masih menjalani proses negosiasi secara intensif demi mengupayakan penghapusan tarif dagang yang dikenakan AS terhadap Indonesia, yang besarnya mencapai 32 persen.

Dalam proses itu, Indonesia menawarkan tambahan impor komoditas strategis dari AS, seperti minyak dan gas (migas), serta produk pangan.

Baca Juga: Update Nego Dagang RI-AS: Airlangga Tegaskan Tak Bahas Isu 'Pasar Barang Bajakan' Usai Mangga Dua Disorot Trump

Namun, Airlangga menegaskan bahwa tawaran tersebut belum bersifat final karena posisi kedua negara masih dalam proses perundingan yang berlangsung dinamis.

“(Negosiasi) itu masih merupakan hal yang dinamis. Jadi, bukan posisi yang statis,” kata Airlangga dalam konferensi pers virtual pada Jumat, 25 April 2025.

Ia juga menjelaskan bahwa rincian jenis produk pertanian maupun migas yang akan ditawarkan masih dalam tahap pembahasan lebih lanjut.

“Pemerintah akan menyampaikan detailnya setelah kesepakatan tercapai,” ujarnya.

Baca Juga: Menguasai Data di Era Digital: Ini 3 Skill Wajib agar Makin Kompetitif di Dunia Kerja

Lebih lanjut, Airlangga menyebut pendekatan negosiasi yang ditempuh pemerintah RI sejauh ini menunjukkan hasil positif.

Menurutnya, pemerintah AS menyambut baik langkah Indonesia yang aktif dan konstruktif dalam dialog perdagangan bilateral. 

Bahkan, Indonesia disebut sebagai salah satu negara pertama yang memulai negosiasi ini.

“Tantangan yang dihadapi tentu karena Indonesia adalah satu dari lebih 70 negara, sehingga tentu bagi Indonesia adalah bagaimana kita menjadi perhatian pertama,” jelas Airlangga.

“Ini sudah berhasil kita capai dan schedule sudah dipersiapkan,” tandas Menko Perekonomian RI.***

Editor: Ibrahim Shiddiq

Sumber: Pemberitaan Media Siber

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X