Terkait hal itu, Piter menambahkan, ukuran ekonomi digital Indonesia juga terus berkembang pesat.
seraya mencontohkan perubahan sederhana seperti hilangnya antrean panjang di kasir supermarket menjadi bukti nyata perubahan gaya hidup masyarakat.
"Dulu kita belanja di supermarket antre bayarnya, sekarang enggak ada lagi antre. Orang belanja seala kadarnya karena sebagian sudah bisa secara online," jelasnya.
Perubahan ini menurut Piter bukanlah tanda buruk, melainkan peluang besar bagi pertumbuhan ekonomi digital Indonesia.
Perpindahan perilaku belanja ke ranah daring membuka potensi baru yang sebelumnya tidak terlihat.
Meski demikian, Piter mengingatkan agar pelaku usaha ritel fisik tetap beradaptasi.
Kehadiran mall dan pusat perbelanjaan fisik masih penting, tetapi perlu menawarkan pengalaman yang tidak bisa didapatkan secara online.
Fenomena Rojali dan Rohana, kata Piter, hanyalah bagian kecil dari dinamika perilaku konsumen.
Tantangan sebenarnya adalah bagaimana mengimbangi pertumbuhan e-commerce dengan inovasi di sektor ritel konvensional.
“Banyak gaya hidup yang sudah berubah, dan ini sebetulnya potensi ekonomi yang luar biasa," tukasnya.***
Artikel Terkait
Kasus COVID-19 Kembali Naik, IFG Imbau Masyarakat Jaga Kesehatan dan Perkuat Perlindungan Diri Lewat Asuransi Kesehatan
Bikin Kuku Cantik Nggak Harus Mahal! Ini Pemenang Battle Kuteks Rp10 Ribu!
Kompor Induksi Mahal vs Murah: Jangan Tertipu Harga, Ini Faktanya!
3 Rekomendasi Bundle Skincare untuk Kulit Berjerawat hingga Sensitif
Tabungan Bank atau Emas, Mana yang Lebih Aman Hadapi Inflasi?