"Data kami sekarang hampir 3.000 desa itu masuk dalam kawasan hutan, artinya desanya kawasan hutan semua. Bayangkan ini, Pak Dasco, desanya penduduknya ada, KTP-nya ada, ikut pemilu, tapi desanya kawasan hutan semua," ungkapnya.
Kondisi tersebut, lanjut Yandri, berimbas serius terhadap kehidupan warga desa.
Mulai dari keterbatasan akses infrastruktur, listrik yang tak bisa masuk, hingga ancaman kriminalisasi ketika warga mencoba menggarap tanah.
"Mereka nggak bisa ngegarap apa-apa, kalau garap ditangkap. Sudah 4 orang yang ditangkap," kata Yandri.
Baca Juga: Besarnya Konsumsi Rokok dari Kebutuhan Keluarga Jadi Akar Penyebab Stunting
Desa Tertinggal Akibat Regulasi
Menurut Yandri, sekitar 16 ribu desa lain berada berimpit dengan kawasan hutan. Akibat status hukum ini, pembangunan infrastruktur dasar kerap terhambat.
Mantan anggota DPR itu juga mencontohkan desa di Tanah Laut, Kalimantan Selatan, yang hingga kini tak memiliki jalan lantaran dianggap berada di kawasan hutan.
“Kenapa? Dari jalan raya menuju desa itu, ini kawasan hutan, tidak boleh dibangun. APBD nggak berani masuk, tadi kata Pak Nusron takut dianggap korupsi. APBN juga nggak berani masuk,” papar Yandri.
Baca Juga: Bupati ASA Hadiri HUT ke 42 Desa Arga Mulya, Apresiasi Sinergi Warga dan Pemerintah Desa
Mendes Minta Lelang Dihentikan
Menanggapi situasi di Bogor, Yandri menegaskan pemerintah tengah berupaya mencegah pelelangan dua desa tersebut.
Mantan wakil ketua MPR itu juga meminta aparat penegak hukum tidak meneruskan eksekusi lelang karena warga sah secara hukum tinggal di wilayah itu.
"Mohon para pihak yang mungkin diberi amanat untuk melakukan sita dan lain sebagainya itu tolong dihentikan karena bagaimanapun desa itu sah secara hukum," tegasnya.
Baca Juga: Bongkar Alasan Menkeu Purbaya Tolak Tax Amnesty hingga Tuai Sorotan Serikat Buruh
Yandri menekankan bahwa kesalahan bukan terletak pada desa, melainkan pada proses pencatatan kredit perusahaan yang menggadaikan tanah.
“Mereka dapat dana desa, ada nomor induk desa, ada pemerintahan desanya, ada KTPnya, mereka bayar pajak dan lain sebagainya dan mereka ikut pemilu,” lanjutnya.
Artikel Terkait
Kasus Keracunan MBG Masih Terus Berulang hingga Jadi KLB, Begini Jawaban Konsisten Kepala BGN
Puja-puji dan Kritikan Pedas Rocky Gerung: Mahfud MD Disanjung, Qodari Justru Kena Sindir
Lanjutan Penyidikan Korupsi Kuota Haji 2024, KPK Jamin Tak Ada Intervensi Meski Belum Tetapkan Tersangka
Besarnya Konsumsi Rokok dari Kebutuhan Keluarga Jadi Akar Penyebab Stunting
Surat Resmi FIFA Pastikan Erick Thohir Boleh Rangkap Jabatan Menpora dan Ketum PSSI