Fenomena Cahaya Merah di Langit Cirebon, BRIN Pastikan Bukan Ledakan Pabrik tapi Meteor Besar

Syamsu Rizal, Redaksi88
- Rabu, 8 Oktober 2025 | 00:06 WIB
Menyoroti analisis dugaan fenomena meteor jatuh di wilayah Cirebon, pada Minggu, 5 Oktober 2025. (Instagram.com/@t_djamal)
Menyoroti analisis dugaan fenomena meteor jatuh di wilayah Cirebon, pada Minggu, 5 Oktober 2025. (Instagram.com/@t_djamal)

Menurutnya, ukuran meteor yang cukup besar itulah yang memunculkan gelombang kejut sehingga suara dentuman terdengar hingga puluhan kilometer. Meski demikian, Thomas memastikan benda langit tersebut tidak sampai menabrak permukaan bumi.

Ia memperkirakan meteor itu terbakar habis di atmosfer, walaupun kemungkinan kecil terdapat fragmen yang jatuh di area terpencil.

Baca Juga: Menkeu Purbaya Pangkas DBH DKI Rp15 Triliun, Pramono Anung Legawa dan Siapkan Efisiensi Anggaran

Fenomena Serupa Pernah Guncang Bone

Thomas turut membandingkan peristiwa di Cirebon ini dengan kejadian serupa yang mengguncang Bone, Sulawesi Selatan, pada tahun 2009.

Kala itu, meteor berdiameter sekitar 10 kilometer menimbulkan dentuman sangat keras hingga kaca jendela rumah warga bergetar.

“Kalau kita bandingkan dengan kejadian meteor Bone 2009, yang menimbulkan dentuman keras yang terdengar sampai jarak 10 km dan kaca jendela rumah warga bergetar, meteor Cirebon ukurannya lebih kecil namun cukup menimbulkan gelombang kejut,” ujarnya.

Perbedaan ukuran itu, kata Thomas, membuat dampaknya tidak terlalu merusak. Namun, fenomena tersebut tetap menjadi pengingat bahwa peristiwa langit seperti ini bisa terjadi kapan saja di Indonesia.

Ia memperkirakan meteor Cirebon berdiameter antara 3 hingga 5 meter, cukup besar untuk memunculkan efek visual dan akustik yang menghebohkan publik.

Baca Juga: Update Insiden Ambruknya Ponpes Al Khoziny: 104 Orang Selamat, 67 Meninggal Dunia Termasuk Body Part

Antara Takjub dan Waspada

Bagi warga yang menyaksikan langsung, peristiwa ini menimbulkan perasaan campur aduk antara takjub dan takut. Cahaya merah di langit dan suara dentuman keras menjadi pengalaman yang tak mudah dilupakan.

Namun, bagi para peneliti, fenomena ini justru menjadi kesempatan emas untuk mempelajari lebih dalam tentang interaksi bumi dan benda langit.

Thomas menambahkan, saat ini BRIN masih mengumpulkan data lanjutan, termasuk kemungkinan lokasi jatuhnya fragmen meteor jika memang ada.

“Fenomena seperti ini bisa menjadi laboratorium alami untuk memahami dinamika atmosfer dan energi benda langit saat memasuki bumi,” tutupnya.***

Halaman:

Editor: Syamsu Rizal

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Sekjen PWI Pusat Zulmansyah Sekedang Wafat

Sabtu, 18 April 2026 | 13:54 WIB
X