IHSG BEI Anjlok 596,33 Poin pada 8 April, Perlu Respons Cepat dari Pemerintah demi Demand Ekspor Tak Turun

Ibrahim Shiddiq, Redaksi88
- Selasa, 8 April 2025 | 15:00 WIB
Potret Gedung Indonesia Stock Exchange (IDX) atau Bursa Efek Indonesia (BEI).  (Unsplash.com/@Ruben Sukatendel)
Potret Gedung Indonesia Stock Exchange (IDX) atau Bursa Efek Indonesia (BEI). (Unsplash.com/@Ruben Sukatendel)

Redaksi88.com - Bursa Efek Indonesia (BEI) kembali beraktivitas dan anjlok pada Selasa (8/4/2025) pukul 09.00 WIB setelah libur panjang Lebaran. 

Namun, pembukaan perdagangan justru diwarnai pelemahan signifikan.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tercatat merosot 596,33 poin (9,16%) ke level 5.914,28. 

Baca Juga: Pemkab Lampung Selatan Turut Serta dalam Panen Raya Nasional Bersama Presiden Prabowo

Sementara itu, Indeks LQ45 yang memuat 45 saham unggulan juga terkoreksi 92,61 poin (11,25%) ke posisi 651,90.

Maximilianus Nico Demus, Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas, sebelumnya telah memprediksi potensi pelemahan ini.

 "Berdasarkan analisa teknikal, kami melihat IHSG berpotensi melemah dengan support dan resistance 6.200 - 6.570," jelas Nico dalam analisisnya di Jakarta, Selasa (8/4/2025).

Baca Juga: Cara Praktis Cek Penerima Bansos PKH Hanya dengan KTP, Tak Perlu ke Kantor Kelurahan

Meskipun terdapat lebih dari 50 negara yang mengajukan negosiasi terhadap kebijakan tarif impor AS, namun hal itu masih membutuhkan waktu berbulan-bulan untuk bisa melakukan penyesuaian dan kesepakatan.

Dari dalam negeri, Nico menilai perlunya respon cepat dan tepat dari pemerintah agar demand ekspor tidak menurun dan kepercayaan investor dapat pulih kembali.

Sebelumnya, RI telah mengambil pendekatan negosiasi sebagai respons terhadap kebijakan tarif resiprokal sebesar 32 persen dari AS.

Baca Juga: Pemerintah Tetapkan Rincian Gaji PPPK 2025, Ini Daftar Lengkapnya Berdasarkan Pendidikan dan Golongan

Nico menyoroti Pemerintah Indonesia yang meningkatkan volume impor, seperti komoditas seperti gandum, kapas, dan produk minyak serta gas dari AS.

"Strategi ini diharapkan dapat mengurangi tekanan tarif, mengingat neraca perdagangan AS terhadap Indonesia masih mencatat defisit sekitar 17,88 miliar AS pada tahun 2024," tutur Nico.***

Editor: Ibrahim Shiddiq

Sumber: Pemberitaan Media Siber

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X