ekbis

Fenomena September Effect: Ekonomi Rata-rata Buruk, tapi Tak Selalu Jadi Bulan Paling Merugi

Sabtu, 6 September 2025 | 11:35 WIB
Ilustrasi fenomena september effect yang dinilai memiliki rekor ekonomi rata-rata buruk di pasar global. (Freepik.com)

Redaksi88.com – Bagi sebagian pakar ekonomi, September kerap dianggap bulan yang kurang bersahabat bagi pasar saham global.

Fenomena ini dikenal dengan istilah "September Effect", yakni kondisi ketika kinerja pasar cenderung melemah dibanding bulan lainnya.

Catatan sejarah ekonomi dunia menunjukkan, hampir satu abad terakhir, indeks saham Amerika Serikat (AS) rata-rata mengalami penurunan setiap memasuki September.

Baca Juga: Kenakan Rompi Pink dan Tangan Terborgol, Nadiem Makarim: Tuhan Melindungi Saya, Kebenaran Akan Keluar

“September telah lama menjadi bulan dengan kinerja terburuk di pasar saham,” tulis Investopedia dalam laporannya yang dikutip Jumat, 5 September 2025.

Meski begitu, tren tersebut tidak selalu berulang setiap tahun. Ada kalanya September justru mencatat kinerja positif dan menguntungkan bagi investor. 

Karena itu, banyak pihak memandang September Effect lebih sebagai anomali statistik ketimbang kepastian di pasar global.

Data indeks S&P 500 periode 1928–2023 memperlihatkan penurunan rata-rata pada September. 

Namun, jika diteliti lebih jauh, median hasilnya justru menunjukkan angka positif dalam beberapa tahun terakhir sejak 2025.

Baca Juga: Kejagung Tetapkan Nadiem Makarim Tersangka Baru Kasus Dugaan Korupsi Chromebook

“Jika investor bertaruh melawan September selama 100 tahun terakhir, mereka memang untung. Namun, jika hanya melihat sejak 2014, hasilnya justru rugi,” tulis Investopedia.

Dengan kata lain, periode analisis sangat menentukan kesimpulan. Ada sejumlah teori yang berusaha menjelaskan fenomena ini.

“Banyak yang percaya, setelah libur musim panas, investor kembali di September untuk mengamankan keuntungan, atau bahkan menjual saham demi kebutuhan biaya sekolah anak,” jelas Investopedia.

Faktor lain adalah bertepatan dengan penutupan kuartal ketiga. Investor institusional, seperti reksa dana besar, kerap melepas saham demi mencatat laba atau memanen kerugian pajak. Kondisi inilah yang memperkuat sentimen negatif di bulan September.

Halaman:

Tags

Terkini