REDAKSI88.com, AS- Harga emas kembali mencatatkan penurunan tajam pada Jumat (13/12/2024), melanjutkan tren pelemahan dalam dua hari berturut-turut.
Penyebab utama penurunan ini adalah penguatan dolar Amerika Serikat (AS) yang mendekati level tertingginya dalam lebih dari dua pekan terakhir.
Mengutip laporan dari Reuters, harga emas spot merosot 1,1 persen ke level US$ 2.652,2 per ons. Di sisi lain, kontrak berjangka emas AS juga mengalami penurunan 1,2 persen menjadi US$ 2.675,8 per ons.
Padahal, sehari sebelumnya, harga emas sempat menyentuh level tertinggi sejak 6 November dan mencatatkan kenaikan hampir 1 persen sepanjang pekan ini.
Analis pasar senior di RJO Futures, Daniel Pavilonis, mengungkapkan bahwa harga emas mengalami lonjakan besar sepanjang tahun 2024.
"Memasuki akhir tahun, ada kemungkinan beberapa aksi profit-taking, tetapi saya percaya tren kenaikan harga emas akan terus berlanjut," ujarnya.
Baca Juga: 6 Artefak Bersejarah Resmi Diserahkan, Tonggak Penting Perlindungan Warisan Budaya
Beberapa faktor utama yang mendorong kenaikan harga emas pada 2024 di antaranya adalah kebijakan moneter yang lebih longgar, pembelian emas besar-besaran oleh bank sentral, serta permintaan emas sebagai aset safe haven di tengah ketidakpastian global.
Saat ini, perhatian pasar tertuju pada pertemuan Federal Reserve (The Fed) yang akan berlangsung pada 17-18 Desember 2024.
Diperkirakan, ada kemungkinan sebesar 97 persen bahwa The Fed akan memangkas suku bunga sebesar 25 basis poin. Jika pemangkasan ini terjadi, harga emas berpotensi mendapatkan dukungan lebih lanjut.
Pernyataan dari Ketua The Fed, Jerome Powell, juga akan menjadi sorotan pasar. Pandangan Powell terkait kebijakan moneter AS untuk 2025 akan menjadi acuan bagi pelaku pasar dalam menentukan langkah investasi, khususnya di sektor emas.
Faktor eksternal lain yang berpotensi memengaruhi pergerakan harga emas adalah kebijakan tarif yang diajukan oleh Presiden terpilih AS, Donald Trump.
Rencana ini diprediksi dapat mendorong inflasi lebih tinggi. Secara umum, bank sentral biasanya mempertahankan suku bunga tinggi untuk menekan inflasi.
Artikel Terkait
KPK Selidiki Kekayaan Kepala BPJN Kalimantan Barat Dedy Mandarsyah Rp9,4 Miliar
Event BRI Journalism 360 Hadir di Palembang, Herman Deru akan Jadi Salah Satu Keynote Speaker MIND ID Mediaprenuer Talks
Terkuak! Inilah Luas Lahan yang Dilepaskan PT Agricinal Berdasarkan Pernyataan Resmi Tahun 2020
Ini Kriteria Peserta yang Bisa Daftar SNBP dan UTBK SNBT 2025, Apa Saja? Jangan Sampai Ketinggalan, Peluang Emas Menuju PTN Impian!
6 Artefak Bersejarah Resmi Diserahkan, Tonggak Penting Perlindungan Warisan Budaya