Selain Polemik Utang Jumbo Rp116 Triliun, Mahfud MD Soroti Tenaga Kerja di Balik Whoosh yang Tak Didominasi Orang Indonesia

Ibrahim Shiddiq, Redaksi88
- Sabtu, 25 Oktober 2025 | 16:00 WIB
Mahfud MD ungkap tenaga kerja di proyek Whoosh didominasi China.  (YouTube Mahfud MD Official - Instagram/keretacepat_id)
Mahfud MD ungkap tenaga kerja di proyek Whoosh didominasi China. (YouTube Mahfud MD Official - Instagram/keretacepat_id)

Redaksi88.com – Polemik seputar proyek kereta cepat Whoosh saat ini tengah menjadi perbincangan. 

Hal ini bermula dari pengakuan pihak PT KAI yang menyebut pembayaran bunga utang proyek tersebut telah mencapai Rp2 triliun, sementara pendapatan dari penjualan tiket baru sekitar Rp5 triliun.

Situasi kian memanas setelah Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan tidak akan menggunakan dana dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) untuk menutupi utang yang kini membengkak hingga Rp116 triliun.

Baca Juga: Mahfud MD Sebut Penyelesaian Utang Whoosh Tak Cukup Politik, Perlu Jalur Hukum

Menanggapi hal itu, Mahfud MD kembali mengingatkan soal dugaan adanya mark up dalam pengadaan proyek Kereta Cepat Indonesia–China (KCIC). 

Pernyataannya itu ia sampaikan dengan merujuk pada pandangan pengamat kebijakan publik Agus Pambagio dan pengamat ekonomi Anthony Budiawan.

Dalam perkembangan terbaru, Mahfud MD menilai bahwa meskipun Whoosh beroperasi di Indonesia, kendali utama proyek tersebut tetap berada di tangan China.

Pekerja di Proyek KCIC Didominasi oleh Tenaga Asing

Melalui video yang diunggah di kanal YouTube Mahfud MD Official pada Jumat malam, 24 Oktober 2025, Mahfud mengungkap fakta terkait komposisi tenaga kerja di proyek KCIC.

Ia menyinggung tulisan mantan Direktur YLBHI, Agustinus Edy Kristianto (AEK), yang empat tahun lalu menggambarkan proyek Whoosh sebagai “bom waktu yang siap meledak.”

“Ada beberapa hal yang bisa dinukil dari tulisan AEK ini. Begini, dalam proyek itu saham Indonesia sebesar 60 persen dan China 40 persen,” kata Mahfud.

Baca Juga: Paparan Radiasi Tinggi, Warga Kampung Sadang Desa Sukatani Dievakuasi Sementara ke Lokasi Aman

Namun, meski Indonesia memiliki porsi saham lebih besar, posisi strategis dalam proyek tersebut justru banyak diisi oleh pihak China.

“Pejabat strategisnya didominasi oleh pihak China seperti presiden komisaris, direktur keuangan, dan direktur tekniknya,” imbuhnya.

“Sekarang ini China sudah mulai mendapat keuntungan, sedangkan Indonesia masih menanggung utang yang bunganya saja sangat besar,” tambahnya.

Halaman:

Editor: Ibrahim Shiddiq

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Sekjen PWI Pusat Zulmansyah Sekedang Wafat

Sabtu, 18 April 2026 | 13:54 WIB
X