Menkeu pengganti Sri Mulyani itu juga menyinggung kasus serupa yang pernah terjadi pada masa Presiden ke-7 RI, Joko Widodo.
Saat itu, lanjut Purbaya, pertumbuhan uang beredar hanya sekitar 7 persen, bahkan sempat stagnan selama dua tahun.
Ia yang kala itu masih menjabat sebagai deputi di Kemenko Kemaritiman dan Investasi mengaku terkejut ketika diminta Jokowi membantu menyelesaikan persoalan tersebut.
“Saya bilang, Bapak bangun apa pun tidak akan maksimal karena mesin ekonomi kita pincang. Hanya pemerintah yang bergerak, sementara 90 persen perekonomian melambat,” kenangnya.
Menurutnya, stagnasi pertumbuhan uang beredar juga menjadi salah satu pemicu gejolak sosial, termasuk demonstrasi besar yang belakangan terjadi.
“Real sector susah, semua susah, keluar tagline #IndonesiaGelap. Kita salah arah karena 90 persen perekonomian digerakkan permintaan domestik,” pungkas Purbaya.***
Artikel Terkait
RUU Perampasan Aset Dibahas, DPR sebut Publik Diminta Kawal Isi Bukan Sekadar Tahu Judul
Gubernur Bali Koster Sebut 2 Korban Tewas dan 4 Orang Hilang Akibat Banjir Besar di Denpasar-Badung
200 Pedagang di Denpasar Rugi Akibat Dagangannya Terseret Banjir, Gubernur Koster Janji Ganti Rugi Lewat APBD
Djuyamto Akui Terima Suap Rp40 Miliar dalam Skandal Vonis Lepas CPO, Berharap Jadi Hakim Terakhir yang Terjerat
Awal Mula Kerusuhan Kathmandu, Nepal: Skandal Korupsi, Revolusi Gen Z hingga Larangan Medsos
Nepo Kids: Gaya Hidup Mewah Anak Pejabat yang Menyulut Gelombang Reformasi di Nepal