Demo Nepal 2025: Ketimpangan Ekonomi, 10 persen Orang Kaya Kuasai Pendapatan 3 Kali Lipat dari Warga Miskin

Syamsu Rizal, Redaksi88
- Kamis, 11 September 2025 | 11:00 WIB
Menyoroti ironi ketimpangan ekonomi di balik aksi demonstrasi warga Nepal yang kini berujung kekacauan. (Unsplash.com/SagarRara)
Menyoroti ironi ketimpangan ekonomi di balik aksi demonstrasi warga Nepal yang kini berujung kekacauan. (Unsplash.com/SagarRara)

REDAKSI88.com – Nepal diguncang kerusuhan besar setelah gelombang demonstrasi yang dipimpin generasi muda pecah di sekitar Gedung Parlemen, Kathmandu, pada Rabu, 10 September 2025.

Amarah massa tak terbendung hingga membakar rumah mantan Perdana Menteri Nepal, Sharma Oli. Akibat tekanan tersebut, Oli akhirnya menyatakan mundur dari jabatannya pada Selasa, 9 September 2025.

Tidak hanya kediaman Oli, kantor kepresidenan hingga gedung parlemen juga menjadi sasaran amukan massa.

Baca Juga: Awal Mula Kerusuhan Kathmandu, Nepal: Skandal Korupsi, Revolusi Gen Z hingga Larangan Medsos

Aksi tersebut mencerminkan kekecewaan publik terhadap pemerintah yang dinilai gagal mengatasi praktik korupsi serta ketimpangan sosial ekonomi yang semakin tajam di Nepal.

Awalnya, demonstrasi dipicu oleh tuntutan pencabutan blokir media sosial. Namun, isu ini dengan cepat meluas menjadi kritik keras terhadap jurang kesenjangan hidup yang kian menyesakkan.

Menurut laporan Reuters pada Rabu, 10 September 2025, satu dari lima warga Nepal hidup dalam kemiskinan. Artinya, lebih dari 20 persen dari total populasi 30 juta orang masih kesulitan memenuhi kebutuhan dasar sehari-hari.

Baca Juga: Gubernur Bali Koster Sebut 2 Korban Tewas dan 4 Orang Hilang Akibat Banjir Besar di Denpasar-Badung

Bank Dunia dalam laporannya menegaskan, 10 persen penduduk terkaya di Nepal memperoleh pendapatan lebih dari tiga kali lipat dibandingkan 40 persen penduduk termiskin.

Data tersebut memperlihatkan betapa lebar jurang ketimpangan ekonomi di negara tersebut.

Situasi semakin berat dirasakan generasi muda. Berdasarkan data Bank Dunia tahun 2022–2023, tingkat pengangguran pada kelompok usia 15–24 tahun mencapai 22 persen.

Banyak di antara mereka yang meski sudah menamatkan pendidikan tetap kesulitan memperoleh pekerjaan layak.

Baca Juga: Djuyamto Akui Terima Suap Rp40 Miliar dalam Skandal Vonis Lepas CPO, Berharap Jadi Hakim Terakhir yang Terjerat

“Mengingat tingkat pekerjaan yang rendah ini, seorang anak yang lahir hari ini di Nepal diperkirakan hanya akan mencapai 18 persen dari potensi produktivitasnya,” demikian laporan Bank Dunia.

Halaman:

Editor: Syamsu Rizal

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X